“Kita kan bangsa tangguh? Nestapa macam apa yang belum kita alami? Dijajah, dipecah belah, dibohongi, diberi janji palsu saat pemilu, dikorupsi, dianak tirikan, dianggap sebagai beban dan entah apa lagi. Saya kira sampeyan sudah tahu apa yang harus kita lakukan andai krisis ekonomi benar-benar terjadi.”
Oleh Abdur Rozaq
Hari raya Idul Fitri kali ini, berbarengan dengan beberapa peritiwa besar yang membuat banyak orang sumpek. Terutama, bagi mereka yang melek internet dan menghabiskan banyak usia menonton platform video, membaca berita online atau setidaknya tak bisa hidup kalau tidak scroll-scroll medsos. Ada sangat banyak berita buruk yang terjadi di dunia, dan entah mengapa, selalu ada lebih sedikit kabar baik. Salah satu yang paling membuat sumpek orang-orang seperti Mahmud Wicaksono, adalah berita viral tentang kenaikan tarif impor 32% yang dikenakan Pak Lik Trump kepada negaranya. Apalagi, entah sekedar demi jam tayang atau serius mengedukasi, banyak konten kreator yang membuat konten tentang krisis moneter yang menghantui Indonesia seperti tahun 1997-1998 silam. Dalam angan-angan Mahmud Wicaksono, alangkah makin gelapnya perekonomian keluarganya andai isu itu benar-benar terjadi. Jangankan krisis moneter, keadaan ekonomi lumayan baik saja ia kelejotan mencari nafkah. Dan, itu, selalu ia omongkan di warung Cak Sueb sampai beberapa orang grebeken dan beberapa orang ikut ciut nyali seperti dirinya.
Seperti biasa, sekali lagi Gus Karimun harus menjalankan tugasnya sebagai tukang suwuk. Meski mungkin tak bisa menolak balak terjadinya resesi atau mengusir Yakjuj Makjuj kiriman George Soros, paling tidak, Gus Karimun harus berhasil nggendam agar umat peminum kopi di warung Cak Sueb tidak panik massal gara-gara tertular Mahmud Wicaksono.
“Dibilang laep sih iya. Karena mencari pekerjaan memang agak sulit saat ini. Tapi melihat gempita lebaran, menurut saya umat kita malah semakin kaya, kok. Sampeyan kan tahu sendiri, orang ngelencer hampir tak ada yang mengendarai sepeda motor butut. Semua pakai motor keluaran terbaru dengan lampu sorot yang sanggup membuat mata buta sesaat. Bahkan semakin hari, makin banyak orang ngelencer pakai mobil. Ini jalan kampung lho. Di desa kita juga makin banyak yang mampu beli mobil, meski belum mampu membeli lahan untuk garasi,” ujar Gus Karimun menghibur umat peminum kopi yang mulai sepakat jika hari raya kali ini memang laep.
“Kalau lihat negara tetangga, gus, orang ngarit saja pakai mobil untuk mengangkut rumput. Kita ini ya, masih tergolong negara belum kaya,” jawab Mahmud Wicaksono yang belum punya mobil.
“Makanya seperti kata Wak Mudin di madrasah dulu, kalau urusan dunia sebaiknya kan kita harus melihat ke bawah agar tidak gupuh, mas? Sebaliknya, kita harus sering melihat ke atas dalam urusan akhirat. Kan masih alhamdulillah kita bisa merayakan lebaran dengan gempita. Tidak seperti saudara kita di Palestina dan Myanmar. Baju lebaran bisa beli beberapa setel, kue lebaran sampai turah-turah, anak-anak juga mendapat sangu saat ngelencer. Bahkan saking banyaknya tabungan, kita sampai sempat beli petasan dan bikin video viral selepas shalat Id. Takbiran sound system horeg juga wira-wiri sampai membuat anak-anak tak mau takbiran di mesjid karena kalah volume pengeras. Bahkan saking banyaknya tabungan, di poskamling anak-anak muda urunan beli ciu sebagai pengganti sirup lebaran. Lebaran kali ini, sama sekali tak ada kesan laep sama sekali, kok.” Beberapa orang manggut-manggut setuju dengan ucapan Gus Karimun. Tapi entah kesambet demit di mana, mahmud Wicaksono yakin jika lebaran kali ini benar-benar laep dan sebentar lagi krisis ekonomi melanda negaranya.
“Makanya kalau nonton video di media sosial itu yang selektif, mas,” ujar Cak Paijo LSM menggurui. Orang sekarang ngawur kalau bikin konten. Bukan ahli ekonomi bikin konten soal resesi demi kontennya viral. Bukan ahli agama bikin konten mengkritik ulama gara-gara tidak sepaham. Makanya orang gupuh karena terlalu banyak menonton video yang sebenarnya dibuat oleh bukan ahlinya,” sambung Cak Paijo LSM.
“Mungkin sebaiknya kita sama-sama tirakat agar negara ini selamat. Tidak ada lagi krisis ekonomi seperti tahun 1997 apalagi yang lebih buruk. Ini kan masih Syawal, insya Allah dosa kita masih tipis karena kemarin kena pemutihan selama Ramadhan, dan dosa kita kepada manusia sudah banyak berkurang. Kita tirakat memohon keselamatan bangsa, bahkan keselamatan semesta ini.”
“Idul Fitri, selain bermakna kembali pada kesucian dari dosa, kita perluas maknanya menjadi kembali suci dari mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Kita perluas maknanya dengan menerapkan asas praduga tak bersalah kepada para pemimpin yang “mati-matian” berbuat terbaik untuk rakyat seperti kita. Kita perluas maknanya menjadi tak mudah percaya kepada para pendengung alias buzzer, yang dibayar untuk menebar kepanikan.”
“Kalau kelak resesi benar-benar terjadi bagaimana, gus?” Ujar Mahmud Wicaksono, terus mengejar.
“Kita kan bangsa tangguh? Nestapa macam apa yang belum kita alami? Dijajah, dipecah belah, dibohongi, diberi janji palsu saat pemilu, dikorupsi, dianak tirikan, dianggap sebagai beban dan entah apa lagi. Saya kira sampeyan sudah tahu apa yang harus kita lakukan andai krisis ekonomi benar-benar terjadi.”
“Ya, ngelus dodo,” jawab Mahmud Wicaksono singkat.