Sukapura (WartaBromo.com) – Viralnya video jip wisata Bromo tetap beroperasi mengantarkan tamu saat penutupan sementara dalam rangka libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, menimbulkan kegaduhan.
Pelaku wisata lain, menyayangkan adanya aktivitas tersebut. Terlebih lagi, ada mobil patroli taman nasional, yang turut masuk dan mengantarkan tamu dari keluarga pegawai taman nasional.
Dalam video lain, sopir jip wisata menyebut sudah dapat ijin kepala desa atau pak Inggi, untuk bisa masuk kawasan. WartaBromo.com pun mengkonfirmasi tudingan itu pada Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, apakah hal itu benar atau mengada-ada.
Terkait penutupan saat Idul Fitri, melalui pesan singkat, Sunaryono menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui dan tidak pernah ada musyawarah dengan warga Tengger, termasuk pelaku wisata.
“Kalau ada musyawarah terlebih dahulu, kita bisa menyampaikan kepada pelaku wisata. Kalau hanya edaran, memangnya kita masyarakat Tengger dianggap apa sama TNBTS?,” katanya, Rabu (2/4/2025).
Penutupan sepihak oleh taman nasional itu pun sangat disayangkan warga Tengger maupun pelaku wisata. Lantaran tidak dilibatkan dalam musyawarah.
“Sebetulnya bisa dirundingkan. Kalau hanya ditutup sehari waktu salat id, tidak masalah, dan tentunya hari raya umat lain harus dihormati, jika itu (salat id dan hari raya idul fitri) yang jadi alasan,” tegasnya.
Sunaryono melanjutkan, sejauh ini warga masyarakat Tengger di lereng Bromo tidak hanya mempertahankan Bromo bukan hanya secara fisik. Termasuk secara spiritual, adat budaya dan kelestarian warga setempat berkontribusi penuh.
“Sebab kalau hanya untuk kepentingan pariwisata saja, banyak yang jadi korban,” tambahnya.
Pihaknya berharap, ke depan manajemen dan pengelolaan Bromo semakin maju dan lebih bagus. Sehingga tidak hanya dinikmati untuk saat ini saja, tetapi sampai nanti generasi penerus Bangsa Indonesia juga masih bisa menikmati keindahan Bromo. Baik secara fisik maupun spiritual sebagai kawasan dengan budaya yang lestari.
Hingga saat ini, pihak TNBTS disebut selalu berseberangan dan penuh intrik oleh warga setempat. “Termasuk terkait penutupan itu sebetulnya sudah kita undang tetapi yang dihadirkan anak buahnya dan hasil rapat masih mau dilaporkan, tetapi sampai hari ini juga tidak ada respon,” tutup Sunaryono.
Upaya konfirmasi ke pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, melalui Kabag TU Septi Eka Wardani pun menemui jalan buntu. Tidak ada respon atas pertanyaan yang dilayangkan melalui pesan whatsapp. (lai/saw)