Pajarakan (WartaBromo.com) – Mariatul Kibtiyah, siswi SMP Islam Abd Wahid Kabupaten Probolinggo menderita kanker tulang pada kaki kirinya. Anak juru parkir tersebut, harus bolak-balik menjalani kemoterapi.
Derita pelajar kelas VII itu, mulai dirasakan sejak setahun lalu ketika ia masih duduk di kelas VI sekolah dasar. Kala itu, merasakan sakit yang sangat serius di bagian lutut.
Putri kedua pasangan M Saiful Fatah dan Nikmaturrahmah itu, lantas dibawa ke Puskesmas Pajarakan untuk mendapat pemeriksaan awal. Kikib, begitu ia dipanggil, kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.
“Tidak tahu juga awalnya bagaimana, adik ini mengeluh sakit di bagian lututnya. Pas diperiksa didiagnosa mengalami kanker tulang, saat itu masih kelas VI SD,” tutur Robiatul Adawiyah, kakaknya, Jumat (10/2/2023).
Keluarga yang berdomisili di Dusun Karangrejo RT 04 RW 02 Desa Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan itu, kaget mendengar kabar penyakit yang diderita Kikib. Upaya pengobatan dilakukan demi menyembuhkan penyakit pelajar berusia 13 tahun. Baik ke sejumlah dokter dan rumah sakit.
Termasuk melakukan kemoterapi di RSU dr Soetomo Surabaya sesuai rujukan dokter setempat. Namun, penyakitnya itu masih belum menemukan titik kesembuhan.
“Sudah empat kali kemo, sekali kemo itu bisa empat hari bisa lebih. Sampai sekarang masih berobat,” ungkap Robik, panggilan Robiatul.
Dalam 3 bulan terakhir, kondisi lutut Kikib semakin parah. Kini muncul benjolan di bawah lutut kirinya. Meski begitu, Kikib dan keluarga tak patah arang memperjuangkan kesembuhan.
“Selama tiga bulan terakhir, sakitnya semakin parah, akhirnya saat ini harus kontrol dua kali dalam seminggu ke RS Soetomo dengan fasilitas dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan,” katanya.
Yang menjadi problem adalah kondisi keuangan keluarga. Dimana Saiful, ayah Kikib, bekerja sebagai jukir di Puskesmas Pajarakan. Penghasilan yang diterima tak seberapa.
“Dari awal mandiri biayanya, tapi sekarang kondisinya sudah jauh berbeda,” ujarnya.
Biaya itu, kata Robik, adalah untuk biaya wira-wiri kemoterapi di Surabaya. Keluarga ini harus menyewa mobil dengan biaya Rp 500 ribu plus akomodasi lainnya selama di kota buaya. Kemoterapi itu dilaksanakan 2 kali dalam seminggu.
Dengan kondisi itu, akhirnya keluarganya pun memutuskan untuk menggalang donasi. Informasi disebar di sejumlah media sosial.
“Karena keluarga sudah kekurangan untuk biaya berobat. Sudah ada beberapa perorangan yang membantu,” tandas ia.
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Pajarakan, Tolak Edi mengaku, sangat prihatin dengan kondisi Kikib. Apalagi Saiful, ayah Kikib, merupakan anggota Banser Satkoryon Pajarakan. Dalam 5 hari terakhir, kondisi Kiki diviral di media sosial.
“Selain membantu via media sosial, kami juga mengupayakan bantuan ke sejumlah instansi. Kemarin kami sudah ke Baznas agar keluarga itu dibantu,” kata Tolak. (cho/saw)