Rahma menilai FGD ini sangat bagus dalam menangkap pokok permasalahan. Ia kemudian fokus pada pembahasan FGD. Pertama, soal biaya. Kedua, masalah zonasi. Ketiga, masalah kuota jangan dikurangi yakni 432 siswa (reguler).
“Dan yang mengherankan, sampai jaman saya sekolah sampai sekarang, SMA masih hanya satu saja,” certusnya.
Satu lagi, lanjutnya, soal perbedaan pelayanan Pendidikan. Jika SMAN Taruna Madani tetap dijalankan dengan komposisi reguler minimal 7 kelas dan madani maksimal 5 kelas, bagaimana dengan pelayanan kepada murid/siswa. Artinya, murid yang membayar Rp 2,5 juta dengan yang hanya bantuan Rp 150 ribu. “Ini tolong dipikirkan juga psikologisnya. Tolong dipertimbangkan juga. Termasuk juga agar murid-murid juga tidak terpengaruh nantinya,” tegasnya. (day/asd)