Internet dari Desa, oleh Desa, untuk Desa

4657

Atas alasan itulah ia kemudian melihat teknologi menjadi sesuatu yang paling mungkin untuk dikembangkan di desanya. Tentu agar desanya tak kalah dengan desa-desa tetangga. Sampai sekarang, oleh desa, skema pengelolaan jaringan internet desa ini diserahkan kepada BUMDes setempat. Tower BTS beserta server dipasang di sekitar kantor desa. Sistemnya, BUMDes akan mencetak voucer internet yang selanjutnya akan didistribusikan kepada agen-agen yang sudah ditunjuk oleh BUMDes.

Agen-agen tersebut, kata Rizal, diprioritaskan warga yang memiliki toko-toko kecil di desa. Tujuannya tak lain untuk menambah penghasilan warga itu sendiri. Ada 25 agen saat ini yang rutin mengkulak voucher internet dari BUMDes. Salah satu agen yang ditemui WartaBromo, Robiatul Adawiyah (34) mengaku rutin setiap hari mengkulak 75 sampai 100 voucer internet dari BUMDes.

Voucer yang dijual itu sendiri harganya memang cukup murah. Mulai Rp1 ribu dengan durasi tiga jam, lalu Rp2 ribu dengan durasi delapan jam, hingga Rp50 ribu dengan durasi satu bulan. Penggunaan internetnya pun tidak terbatasi kuota gigabyte.

Setiap agen, kata Rizal, biasanya mengambil keuntungan 25 persen dari harga voucer. Robiatul, misalnya, setiap ia menjual voucer dengan nilai Rp2 ribu, ia mendapatkan untung Rp500. Artinya jika setiap hari bisa menjual 100 voucer, Robiatul bisa mendapat keuntungan Rp50 ribu per hari.

Selain itu, internet yang digunakan di Desa Sambirejo, menurut Rizal, adalah dedicated internet dengan kecepatan 1 mbps untuk tiap pengguna. Rizal menjelaskan, dedicated internet berbeda dengan broadband internet. Ia memberi gambaran, dedicated internet dengan kecepatan 1 mbps setara dengan broadband internet dengan kecepatan 10 mbps. Bagi masyarakat desa, kecepatan seukuran itu sudah sangat kencang.

Internet Desa Sambirejo ditransmisikan dari tower BTS milik desa melalui kabel fiber optik menuju modem-modem yang sudah terpasang. Hingga sekarang, desa memiliki 33 modem yang tersebar di tiga dusun yakni Dusun Regek, Dusun Budug, dan Dusun Babatan.

Sekadar cerita, ketika awal-awal sosialisasi soal jaringan internet di desa, Rizal menyebut masyarakat desanya masih banyak yang tidak paham. Warga yang bahkan ponselnya tak memiliki koneksi internet turut membeli voucer karena ikut-ikutan anaknya. Tak hanya itu, ketika sudah membeli voucer, mereka bukannya membaca atau memasukkan kode yang tertera di voucher, tetapi malah menempelkan voucer tersebut ke ponselnya.

“Voucernya itu ditempel ke ponselnya, diusap-usapkan, seperti tisu. Lalu protes ke saya kenapa voucernya tidak bisa dipakai. Orang sini kalau menyebut bukan WiFi, tapi hipi. Hipi-nya tidak bisa, hipi-nya tidak bisa, begitu mereka kalau protes,” ungkapnya lalu terkekeh.

Topang Pendapatan BUMDes

Dari mencetak dan menjual voucer internet ini, BUMDes Sambirejo pada bulan pertama berjalan, yaitu Maret 2020 sudah bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp9 juta. Daifa membeberkan, bulan-bulan berikutnya rata-rata BUMDes bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp7 hingga Rp8 juta. Hingga akhir tahun 2020, pendapatan BUMDes sekitar Rp80 juta.

BUMDes Sambirejo saat ini memang belum bisa menyumbang pendapatan asli desa (PADes). Namun ke depan, Daifa berharap jika manajemen pengelolaan serta pendapatan sudah mapan, BUMDes bisa berkontribusi terhadap PADes.

“Jadi diharapkan bisa kembali ke desa dan bisa digunakan untuk pembangunan, pemberdayaan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat,” beber Daifa.

Daifa mengungkapkan, pengelolaan internet desa ini sepenuhnya menggunakan dana desa. Belum ada bantuan dana dari Pemkab Pasuruan, misalnya, atau dari pihak swasta. Tahun ini desa menganggarkan Rp70 juta untuk pengembangan layanan internet. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk belanja infrastruktur jaringan seperti modem dan splicer (fiber optik) atau perangkat yang berfungsi untuk menyambungkan kabel fiber optik.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.