Catatan dari Ruang Karantina

1870

Tetapi, itu jika rumah sakit masih cukup, masih ada ruangan untuk menampung. Padahal, kita sama-sama tahu. Kapasitas rumah sakit dan tenaga medis yang dimiliki jumlahnya terbatas. Itu-itu saja. Atau bahkan ada yang berkurang karena juga ikut terpapar. Kalau sudah begitu, mau apa? Atau bisa apa? Tidak bisa apa-apa. Pasrah saja menunggu giliran.

Jadi, melihat lonjakan yang begitu drastis, hingga menembus rekor tertinggi sejak pandemi setahun lalu, selayaknya membuat kita makin waspada. Pandemi ini serius. Kecerobohan, peng-abai-an akan protokol kesehatan akan berakibat fatal.

Sederhananya begini. Ketika semua longgar, bablas tanpa protokol kesehatan yang ketat, virus akan lebih massif menyebar. Jika sudah begitu, yang imunnya kuat akan bertahan, yang lemah ambruk.

Bila yang ambruk dalam jumlah banyak, melebihi kapasitas rumah sakit, sudah pasti upaya penanganan akan sulit. Setelah itu, bisa Anda bayangkan sendiri.

***
Saya kira semua sumpek melihat tren lonjakan kasus yang terjadi belakangan ini. Terutama mereka yang terkena dampaknya langsung. Seperti pedagang, pemilik warung atau cafe.

Tetapi, jangan kemudian kesumpekan itu dilampiaskan dengan membangun narasi seolah-olah Covid-19 ini tidak ada. Bahwa kita semua prihatin, iya. Tetapi jangan pula kemudian keprihatinan itu diungkapkan dengan narasi-narasi yang akhirnya justru membuat publik bingung.

Kepada yang bukan ahli, jangan sembarang celometan. Bicaralah dengan bukti, bukan asumsi. Karena Covid itu tak kasat mata, percayakan pada ahlinya. Karena itu pula meski saya sehat walafiat, saya tetap melakukan isolasi demi kebaikan semua.

Terakhir, biasakan pola hidup sehat. Patuhi protokol kesehatan. Karena tanpa itu, pandemi tak kan pernah berakhir…#marijagabersama. (*)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.