Selain itu, harga minyak dunia yang cenderung fluktuatif juga banyak memberi pengaruh. Begitu juga dengan Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun belakangan yang turut berdampak pada turunnya tren investasi. Bahkan, pada 2020 lalu, Exxon, Shell serta beberapa pemain besar industri hulu migas memangkas belanja investasinya 20-30 persen.
Di dalam negeri, kata Taslim, pandemi yang terjadi juga menyebabkan produksi minyak ikut turun. Hanya 678 ribu barel dari 705 ribu barel yang ditargetkan. Meski begitu, Taslim berharap agar penurunan tak kembali berlanjut di tahun ini.
Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha mengatakan, Pandemi yang terjadi harus diakui telah menjadi pukulan telak pada sektor industri migas. Bukan hanya dalam negeri, tapi juga global. Bahkan, penurunan tren investasi migas di Asia Pasifik merupakan yang terendah sejak 2016 lalu.
Satya mengatakan, pada 2020 lalu, nilai investasi migas di Asia Pasifik anjlok menjadi 300 miliar dolar AS dari 420 miliar dolar AS, atau sekitar 30 persen dibanding 2018. Namun, seiring dengan membaiknya situasi global akibat pandemi, investasi sektor ini mulai menunjukkan tren kenaikan di 2021 ini.
Menurut Satya, tren naiknya investasi ini diprediksi akan bertahan hingga 2024 mendatang. Namun demikian, nilainya tidak akan melampaui capaian di 2014 yang mencapai 700 miliar dolar AS lantaran pandemi global yang masih membayangi.
Menambah Insentif Fiskal
Satya memahami, untuk mengejar target 1 juta barel bukan tugas mudah. Dibutuhkan investasi superjumbo hingga 187 miliar dolar AS. Karena itu, pemerintah dinilainya perlu menata ulang skema fiskal dalam rangka menarik investor.
Menurut Satya, pemberian insentif dalam berbagai bentuk tidak hanya efektif merangsang industri migas kembali bangkit. Tetapi, juga mengurangi defisit neraca perdagangan migas, serta meningkatkan pendapatan negara dari produksi migas yang naik.
Satya mengatakan, tanpa pemberian insentif, investasi migas 2020-2040 diperkirakan hanya sebesar 221 miliar dolar AS. Sementara jika pemberian insentif diterapkan, angka investasi yang masuk diprediksi bisa tembus hingga 466 miliar dolar AS.
Yang lebih penting lagi, adalah multiple effect dari kegiatan ini. Menurut Yudha, dari kajian yang dilakukan, setiap 1 juta dolar AS pembelanjaan hulu migas , multiple effect yang dihasilkan mencapai 1, 5 juta dolar AS, menambah GDP hingga 0, 75 juta dolar AS, bahkan berpeluang menambah lapangan pekerjaan untuk 100 orang.
Namun demikian, Satya mengakui bila situasi industri migas saat ini menghadapi banyak tekanan di tengah desakan peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Terlebih, Indonesia termasuk negara yang ikut meratifikasi Paris Agreement terkait dengan pengurangan emisi karbon.
“Inilah yang harus terus didorong. Penggunaan energi fosil harus dibarengi dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan,” jelas Satya.
Sekretaris SKK Migas Taslim Yunus mengatakan, di luar tahapan strategis, ada beberapa paket stimulus yang telah ia siapkan guna merangsang bangkitnya industri migas dalam negeri. Di antaranya, tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, fleksibilitas fiscal term, penundaan atau pengurangan 100 persen pajak tidak langsung, penghapusan biaya sewa pada barang milik negara dan lain sebagainya.
Taslim menyadari, industri migas merupakan industri berbiaya besar dengan kebutuhan teknologi dan risiko yang tinggi, serta persaingan antar negara yang begitu ketat. Namun, dengan berbagai paket kebijakan dan dukungan semua pihak, upaya untuk mengejar puncak produksi migas bisa tercapai. (*)