Hangatnya Ramadan di Kampung Muslim Tengger

1365

 

Sukapura (wartabromo.com) – Kawasan Lereng Tengger, di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mayoritas beragama Hindu. Namun ada satu desa, yang dihuni umat muslim tengger.

Perbedaan itu hidup dalam satu harmoni. Sehingga suasana Ramadan kali ini, berlangsung khidmat dan khusyuk, meski masih dalam kondisi pandemi covid19.

Menjelang sore, anak-anak muslim tengger di Desa Wonokerto, bergegas menuju musala di tengah desa. Selama Ramadan, mengaji bersama ini menjadi kegiatan rutin, sembari menunggu waktu buka bersama.

Ustaz Muhammad Muhibbin, guru ngaji di musala Al Ikhlas Wal Barokah menyebut, sejatinya ngaji bersama sudah dilakukan walau tidak di bulan Ramadan. “Libur hari Minggu saja. Tapi saat puasa, tidak ada liburnya. Karena kami selalu buka bersama di sini,” terangnya, Jumat (23/4/2021).

Kendati diapit oleh desa yang beragama non muslim, muslim Tengger di Desa Wonokerto ini bisa hidup berdampingan, menjunjung toleransi. Tanpa ada sekalipun gesekan dengan warga sekitar. Bahkan pada sejumlah hari besar keagamaan, kedua penganut agama ini saling bekerjasama.

Suasana pegunungan yang sejuk, membuat Ramadan di desa ini lebih hangat dan cukup berbeda dengan Ramadan di tempat lain. Sayup-sayup lantunan suara ayat suci Al Quran terdengar ke seantero desa.

“Dari kegiatan mengaji ini kami berharap, anak-anak bisa menjadi pioneer untuk suri tauladan di generasi berikutnya. Terutama dalam menyampaikan syiar islam yang rahmatan lil alamin,” tutur lelaki asal Pasuruan ini.

Memasuki hari kesebelas bulan suci Ramadan kemarin, ibadah tahunan umat muslim di sini berlangsung penuh kedamaian. Salah satu wujud toleransi yang dilakukan umat non muslim Tengger, dengan menutup warung makan dengan kelambu. Agar tidak mencolok dan mengganggu umat muslim yang tengah berpuasa.

Aktivitas muslim di Lereng Bromo itupun menjadi satu-satunya di tengah desa beragama lain. Musala yang digunakan untuk mengaji sehari-hari diungkapkan juga sarat dengan filosofi dan sejarah. Salah satu marbot musala Al Ikhlas Wal Barokah, Sugeng Laksono mengungkapkan, pembangunan musala itu merupakan swadaya masyarakat.

Struktur dinding bangunan memakai kayu cemara. Dengan lapisan gedek atau dinding anyaman bambu pada bagian dalamnya. Kontruksi semacam itu banyak ditemui di daerah pegunungan, seperti di Lereng Bromo. Bentuk musala berupa kubus, menyerupai bangunan ka’bah.

Di tengah bangunan juga ada satu tiang cemara berukir yang posisinya lurus. Tepat di tengah bangunan. “Tiang tersebut memiliki filosofi, agar umat manusia senantiasa tetap lurus dan taqwa pada Allah SWT,” jelas bapak tiga anak ini.

Muslim Tengger ini sepertinya bisa menjadi miniatur percontohan, bagaimana alam dan manusia dengan perbedaan keyakinan bisa hidup dalam harmoni. Persis seperti semboyan nusantara, yakni Bhineka Tunggal Ika. (lai/saw/ono)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.