Pandemi, Pemilik Mebel di Probolinggo Banting Setir Bikin Peti

1969
“Di tengah pandemi virus corona (Covid-19), permintaan peti jenazah meningkat. Sebab jenazah harus dimakamkan dengan protokol kesehatan termasuk memakai peti. Peluang itu, ditangkap oleh Abdul Muni (64), pengusaha mebel asal Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo.”

Laporan: S. Adi Wardhana Probolinggo.

PESANAN yang masuk ke mebel Asterina berbeda dari biasanya. Bukan lemari, kursi atau perabot lain, melainkan peti mati untuk korban virus Corona. Semakin lama, pesanan semakin banyak di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia. Peluang di tengah lesunya perekonomian.

Pria yang akrab disapa Muni itu, mengaku awalnya mulai membuat peti mati ketika usaha mebelnya terpuruk. Pemesan mebeler seperti kursi, meja, lemari hias atau lemari pakaian, nyaris tidak ada sama sekali. Baik untuk kebutuhan sehari-hari, maupun sebagai barang bawaan bagi pengantin baru.

“Kan waktu itu, ada pembatasan skala besar dimana-mana. Jadi awal adanya Covid-19, pesanan mebel sedikit. Biasanya jelang hari raya, pesanan mebel banyak. Baik rumah tangga maupun yang kawinan, buat bawaan (bekhèbeh, Madura),” tuturnya.

Tidak hanya pembeli lokal, konsumen dari luar daerah, seperti Malang, Lumajang, Surabaya, Bali dan lainnya, pun seperti kompak stop pesanan. Termasuk juga order mebeler dari instansi pemerintah. Terpengaruh pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia.

Padahal sebelum pandemi Covid-19, tiap bulan Muni selalu menerima pesanan dan mengirim berbagai macam produk mebel. Sembilan karyawannya sampai kewalahan memproduksi aneka mebel. Bahkan terkadang menambah tenaga kerja lepas.

“Biasanya (yang dikirim) bangku, kursi dan lemari dengan harga produk yang bervariasi. Paling murah kami jual seharga Rp 2 juta sampai ke atas, tergantung permintaan pesanannya juga,” sebut pria yang sudah mempunyai 6 cucu itu.

Peti produksi mebel Asterina milik Abdul Muni. Foto: Sundari AW.

Dalam perkembangannya, jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Probolinggo yang meninggal dunia semakin banyak. Termasuk juga pasien probable dan suspect meninggal dunia dengan pemakaman protokol kesehatan (Prokes).

Seiring itu, permintaan peti jenazah meningkat. Sebab jenazah harus dimakamkan dengan protokol kesehatan termasuk memakai peti. Peluang itu, ditangkap oleh ayah 4 anak ini. Agar usahanya mebelnya tetap bertahan di tengah kelesuan ekonomi.

“Saya mendapat informasi bahwasanya pasien Covid-19 yang meninggal, itu dikubur pakai peti. Kami kemudian berinisiatif membuat peti jenazah, lalu ditawarkan ke berbagai rumah sakit. Alhamdulilah, responnya baik,” kata pensiunan guru itu.

Setelah itu, Muni menerima pesanan pembuatan peti mati sejak akhir September 2020. Sedikitnya dalam sebulan, 35 unit peti mati dikirim ke sejumlah rumah sakit. Baik di Kabupaten Probolinggo maupun luar daerah.

“Alhamdulillah usaha kami terselamatkan pesanan peti ini, kami buat jika ada pesanan dari rumah sakit. Mampu membayar karyawan dan tak sampai mem-PHK mereka. Sebenarnya keuntungan dari hasil menjual peti mati lebih rendah dibanding memproduksi mebel,” ungkapnya.

Suami dari Astidja itu pun enggan menambah jumlah pekerja maupun mematok target produksi. Pasalnya, ia hanya membuat peti sesuai dengan jumlah pesanan dan cukup mempekerjakan karyawan yang ada. “Kita enggak bisa kejar target. Karena karyawan kita bukan mesin,” ujar dia.

Ia berharap, semuanya kembali normal seperti sedia kala. Karenanya ia, meminta kepada warga masyarakat untuk selalu patuh menerapkan protokol kesehatan. Seperti memakai masker saat beraktifitas. Menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Serta mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.