Paket edukasi yang dilakukan Ketua Paguyuban Citra Pengusaha Mandiri Probolinggo (CPMP) itu adalah pembinaan dan teknis pembuatan anyaman bambu menjadi produk perabot rumah tangga dan aksesoris.
Ia menyasar sejumlah komunitas, di antaranya komunitas gowes yang sedang merebak termasuk di Kabupaten Probolinggo. Bahkan peserta paket edukasi itu juga datang dari luar daerah seperti Kalimantan.
“Pemasaran kami fokuskan ke online, tapi karena produk kami sebagian berukuran besar akhirnya terjadi kendala pengiriman untuk ke luar pulau. Terobosannya kami juga sediakan paket edukasi pembuatan produk, tapi hanya bisa mengangkat omset 10 persen saja,” ungkapnya.
Produk yang dibuat juga semakin terbatas karena sepinya pembeli akibat terdampak pandemi Covid-19. Kerajinan dengan tingkat kesulitan tinggi, berbahan baku bambu khusus, dan memiliki nilai jual tinggi jarang sekali diproduksi.
Alasannya untuk efisiensi bahan baku dan biaya operasional karena sepinya peminat. Saiful lebih banyak memproduksi kerajinan perabot rumah tangga sehari-hari karena peminatnya masih tetap ada.
“Produk yang nilai jualnya tinggi sementara kami produksi sesuai pesanan saja. Kalau produk perabot rumah tangga dan aksesoris yang harganya terjangkau kami tetap membuatnya setiap hari,” imbuhnya.
Sebelum pandemi Covid-19, minimal sekali dalam sebulan produk yang dihasilkannya ikut dalam pameran. Tapi selama pandemi nyaris tidak pernah sama sekali.
Hunian hotel di tempat-tempat wisata dan even rutin tahunan seperti Yadnya Kasada dan Jazz Gunung yang menjadi ajang penjualan produk juga terkendala karena adanya pembatasan pengunjung.
Satu-satunya yang dapat diandalkan oleh pelaku UMKM di masa pandemi ini adalah pembelian dari instansi pemerintah untuk kebutuhan dinas baik makanan-minuman maupun produk kerajinan dan aksesoris.
————————————–
Penulis : SONY WAHYU WIRAWAN
Instansi : Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian
Daerah : Kabupaten Probolinggo