Sastra Jawa dan sastra daerah lain telah menjadi sebuah “museum” Kebudayaan Jawa yang sesekali boleh kita banggakan dan tak pernah kita pelajari. Alih-alih berusaha merevivalisme Kebudayaan Jawa bagi kepentingan Peradaban Indonesia, sebagian dari orang Jawa malah bersikap abai terhadap kebudayaannya sendiri. Lalu koar-koar ketika budaya kita “diambil” orang lain, atau cukup merasa prihatin saja sudah cukup.
Temuan menarik lain ialah, Nancy menemukan bahwa dari semua karya sastra yang disimpan di Keraton Surakarta, hanya 1 persen saja yang benar-benar berisi tentang jawa dan hindu-budha.
Selain itu, karya-karya yang ada berisi tentang Jawa-Islam yang menyublim menjadi sebuah hibrida kebudayaan, alih-alih bertentangan. Tepatnya, sekitar 1450 judul naskah yang tersimpan di perpustakaan keraton, terdapat 500 judul yang merupakan ragam kesusasteraan Islam. Bahwa kesarjanaan kolonial telah memalingkan muka tentang signifikansi melimpahnya inskripsi Islam di dalam keraton (hlm. 43).
Membahas Kebudayaan Jawa (dengan K besar), tidak boleh tidak melewatkan Raden Ngabehi Ronggawarsita. Nancy juga secara khusus membuat tulisan sepanjang 46 halaman tentang Pujangga penutup abad ini.
Dikenal luas karena ramalannya tentang zaman edan yang sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian orang Jawa. Bahkan tidak sedikit, yang hafal diluar kepala tentang bait ketujuh “amenangi jaman edan….”.
Meskipun begitu, kebanyakan tidak pernah benar-benar tahu keseluruhan bait-bait puisi dari serat Kalatidha yang tidak hanya berisi tentang refleksi profetiknya tentang masa depan Jawa. Bahwa Serat Kalatidha berasal dari refleksi mendalam Ronggawarsito tentang kondisi Jawa di penghujung hidupnya yang sedang carut marut.
Mencoba melihat Kala Tidha dari perspektif lain, Nancy melihat bahwa puisi tersebut tidak hanya sebagai ratapan putus asa sang pujongga tentang kekalahan kekuasaan Jawa. Melainkan upaya refleksi atas realitas dan Ronggawarsita berupaya untuk “menghidupkan” kembali potensi Jawa sebagai sebuah kekuasaan dan Kebudayaan (hal. 158).
Kumpulan esai akademis Nancy K. Florida ini boleh dibaca sebagai semacam pelecut bagi orang Jawa maupun suku-suku lain yang sedang memunggungi kebudayaannya.
Nancy menunjukkan bahwa Kebudayaan Jawa telah banyak dimanipulasi oleh sarjana kolonial yang naasnya diwarisi oleh sarjana-sarjana kita. Pembacaan kritis terhadap Kebudayaan Jawa melalui kacamata kritis post-kolonialis perlu digalakkan dalam upaya merevivalisme Kebudayaan Jawa sebagai identitas orang Jawa. Sekaligus menjadi sumbangsih terhadap susunan mozaik kebudayaan Indonesia yang lebih abstrak lagi.
Akan sangat riskan jika Kebudayaan Indonesia yang lahir dari keberagaman Kebudayaan masing-masing suku yang menjadi bagiannya, hilang karena gagal faham melihat dan mempelajari kebudayaan masing-masing. (*)
Catatan: penulis merupakan jurnalis WartaBromo.com.