Pasuruan (WartaBromo.com ) – Pasien positif virus corona (Covid-19) di Kota Pasuruan dicatat 2 kasus. Seorang di antaranya meninggal.
Plt Wali Kota Pasuruan, Raharto Teno Prasetyo menjelaskan, MI (64), pasien RSUD Bangil yang dinyatakan Postif Covid-19 dan meninggal dunia merupakan warga DKI Jakarta.
Kepada WartaBromo, Senin (13/04/2020) pagi, Teno -sapaan akrab Wawali Kota Pasuruan itu mengungkapkan, dari hasil penelusuran, MI merupakan warga Jakarta yang memiliki istri siri di Kota Pasuruan. Pasien tersebut berkunjung ke istrinya pada 23 Maret 2020, dan pada tanggal 2 April 2020 lalu tiba-tiba mengeluh demam, flu, disertai sesak nafas. Ia memutuskan berobat ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Pasuruan.
Lantaran gejalanya mirip dengan Covid-19, RS swasta tersebut merujuk MI ke RSUD Bangil. Waktu itu, Pemprov Jatim masih belum menetapkan RSUD Kota Pasuruan sebagai RS Rujukan Covid-19.
“Saya tegaskan bahwa Kota Pasuruan selama ini Zona Hijau Covid-19 bersama dua daerah lain di Pulau Madura. MI adalah penduduk Jakarta yang datang ke Pasuruan dan tidak ter-trace kami. Dia seorang penceramah keliling. Nah, tanggal 2 april mengeluhkan badannya demam, flu dan batuk, dibawa ke RS swasta di Kota Pasuruan,” ungkapnya.
Setelah dirujuk, tepatnya tanggal 10 April lalu, hasil swab keluar, dan MI dinyatakan positif corona dan meninggal dunia.
Terungkap, jenazah pasien ini diminta tak dimakamkan di wilayah Kabupaten Pasuruan. Pasalnya, MI merupakan rujukan dari Kota Pasuruan, selain ada hubungan dengan warga Kota Pasuruan.
Kata Teno, Pemkot Pasuruan memutuskan menerima jenazah tersebut untuk dimakamkan sebagaimana mestinya para jenazah Covid-19.
”Sebagai Kepala Daerah, kami diwajibkan untuk menyiapkan lokasi lahan untuk warga positif corona yang meninggal dunia. Meskipun MI ini bukan warga Kota Pasuruan, tapi kami menerimanya, kami lihat dari sisi kemanusiaan. Siapa yang ingin meninggal karena corona? Bagaimana kalau ini menimpa kita semua, apakah jenazah keluarga anda ingin ditolak oleh warga? Tentu tidak,” tegasnya.
Lebih lanjut Teno menjelaskan, selama proses pemakaman, seluruh petugas sudah melaksanakan segala Protap pemulasaraan jenazah Covid-19. Mulai dari para petugas yang mengenakan APD (alat pelindung diri) lengkap, warga dilarang untuk berdekatan atau mendekat di lokasi pemakaman, hingga para penggali makam pun juga telah melaksanakan apa yang sudah diintruksikan oleh petugas.
Teno pun angkat bicara terkait penolakan sejumlah warga Kota Pasuruan terhadap proses pemakaman jenazah. Sikap warga itu bahkan sempat terekam video handphone dan beredar luas di media sosial, terutama grup-grup WhatsApp.
Ditegaskan, video yang beredar pada Jumat (10/04/2020) tersebut terjadi sebelum dirinya dan Dandim 0819 Pasuruan, Letkol Arh Burhan Fadjari Arfian, datang untuk menjelaskan kepada warga sekitar pemakaman.
Teno memahami akan aksi warga yang belum mendapatkan penjelasan detail terkait proses pemakaman dari warga yang bukan penduduk Kota Pasuruan itu.
Hanya saja, Teno menyayangkan dan menduga ada oknum-oknum yang sepertinya mencari panggung atau sensasi, hingga membuat warga ketakutan dan panik.
“Saya prihatin. Di tengah kondisi seperti ini, masih saja ada oknum yang membuat provokasi. Bukannya membantu pemerintah, malah mencari panggung sendiri. Padahal, warga apabila dijelaskan, juga enak dan cooperative,” katanya.
Meskipun sempat berdebat dengan oknum dan warga yang terprovokasi, proses pemakaman pun akhirnya bisa terlaksana.
“Setelah 4 jam meninggal, jenazah harus segera dimakamkan. Selama 4 jam ini kami bereskan semua, mulai admin sampai pemakaman. Kami putuskan dengan segala pertimbangan dan rasa kemanusiaan, kami menerima jenazah ini, itupun ambulans dari Pemkot yang jemput jenazah dari RSUD Bangil,” terangnya.
Oleh karenanya, dengan beredarnya video tersebut, Teno mengimbau kepada seluruh warga Kota Pasuruan untuk tidak terprovokasi dengan berita hoax, sebelum dipastikan kebenarannya.
Pemkot Pasuruan terus melakukan berbagai macam upaya untuk mencegah penularan Covid-19 di Kota Pasuruan. Mulai dari penyemprotan disinfektan ke semua titik, hingga penyediaan ratusan wastafel yang dipasang di jalan-jalan, depan fasilitas publik, tempat ibadah dan lainnya.
“Jujur saya sempat syok ketika tiba-tiba Kota Pasuruan dinyatakan zona merah corona oleh Pemprov Jatim. Tapi yang terpenting adalah bagaimana menatap ke depan, memberikan yang terbaik, tapi harus diikuti oleh kesadaran warga secara bergotong royong,” kata dia
Menurutnya, Pemkot sudah memasang 200 wastafel portabel, bersumber dari swadaya seluruh staf dan masyarakat, di ruas jalan dan tempat ibadah.
“Kita berikan masker, sembako. Semuanya untuk masyarakat Kota Pasuruan,” imbuhnya. (mil/ono)