“Dari analisis kami, terdapat peningkatan populasi kendaraan logistik dari tahun ke tahun,” kata Gumilang Tarigan.
Pertumbuhan jumlah truk ini, dapat meningkatkan kebutuhan impor BBM dan subsidi energi. PGN memberikan solusi dengan konversi bahan bakar menggunakan LNG. Jika konversi bisa dilakukan untuk 10.000 truk per tahun, maka dapat menyerap pasokan LNG domestik sebesar 18.5 BBTUD.
Panggunaan LNG sebagai bahan bakar alternatif untuk truk juga sudah di aplikasikan secara masif di Eropa, Amerika dan China. Manufaktur truk yang telah memproduksi teknologi ini juga cukup banyak seperti SCANIA, VOLVO, IVECO, ISUZU, FAM, dan SHACMAN.
Bagi PGN, kerjasama ini adalah moment yang sangat istimewa karena dihadiri oleh stakeholder utama yaitu para pengusaha truk logistik, regulator dan kementerian terkait. Maka dari itu, PGN memiliki motivasi yang besar untuk kelangsungan kerjasama yang optimal bagi APTRINDO.
PGN sebagai bagian dari Holding Migas Pertamina dan perannya sebagai subholding gas memiliki peran untuk meningkatkan pemanfaatan gas domestik di Indonesia, salah satunya adalah penyerapan LNG domestik. Dengan terintegrasinya bisnis gas dari hulu ke hilir, PGN percaya mampu memberikan jaminan supply LNG secara berkelanjutan. (day/*)