“Itu bukan mengerti namanya. Tapi menyudutkanku!”
Loh, bukankah di antara kita yang punya masalah adalah dirimu?
“Memang. Tapi bukan berarti kau bisa semena-mena terhadapku!”
Sudah kubilang berkali-kali, ini semua karena aku peduli kepadamu!
“Jika kau peduli seharusnya kau membantuku untuk menggugurkan janin ini!”
Tidakkah kau ingat aku sudah membantumu? Ketika kau selalu berusaha untuk menggugurkannya, aku selalu ada untukmu. Tapi apa yang terjadi? Sesuatu di dalam perutmu itu masih saja berusaha untuk hidup.
“Kau hanya diam dan melihat. Bukan berarti kau membantuku!” ke halaman 2
Karena aku memang tidak setuju dengan apa yang telah kau lakukan selama ini!
“Kau bukan sahabat yang baik!”
Lihat dirimu sendiri! Kaulah yang tidak baik!
Wanita itu terdiam. Ia membuka ponselnya. Entahlah apa yang sedang dilakukannya. Tapi tiba-tiba air matanya mengalir lagi.
“Sebenarnya aku tidak menginginkan ini semua! Ada sebagian dari diriku yang memaksaku untuk terus merawat janin ini. Tapi sebagian dari diriku yang lain, lebih kuat memaksaku untuk menggugurkannya.”
Aku yakin kau tahu mana pilihan yang baik.
“Ya. Sepertinya bunuh diri adalah pilihan terbaik!”
Bodoh! Itu bukan pilihan.
“Justru ketika aku memilih salah satu dari pilihan tadi, itu berarti aku tidak memilih!”
Maksudmu?
“Ah, sudahlah! Percuma, kau tidak akan mengerti!”
Kau ini membingungkan. Lihat, air matamu itu tidak bisa membohongiku!
Wanita itu terdiam lagi.
“Kenapa kau menertawaiku, hah? Tidak ada yang lucu!”
Aku tertawa karena maskaramu yang berantakan. Lihatlah sendiri! Dan coba bayangkan apa yang akan orang-orang pikirkan tentangmu ketika mereka melihatmu dalam keadaan seperti ini.
“Aku tidak peduli!”
Tapi setidaknya kau harus peduli dengan dirimu sendiri!
“Sudahlah! Aku sudah muak dengan semuanya! Kepalaku seperti mau pecah!”
Kau hanya tidak bisa tenang. Cobalah ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan-lahan.
“Kau ini sungguh menyebalkan sekali ya!”
Aku berusaha menenangkan dirimu. Karena aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirimu sendiri.
“Sudahlah, aku mau pergi!”
Ke mana?
“Apa urusanmu? Sudahlah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!”
Hei… tunggu!
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, wanita itu menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Membanting pintu dan lenyap di baliknya. Menggapai tangannya saja aku tak mampu, apalagi harus mencegahnya untuk tidak pergi? Aku hanya bisa terdiam. Entah ke mana ia pergi, entah apa yang akan dilakukannya, dan entah kapan ia akan menemuiku lagi. Lantas apa yang bisa kulakukan, jika aku hanyalah cermin dalam sebuah toliet Indomaret? (*) ke halaman awal
*Penulis merupakan anggota komunitas Takanta Situbondo. Telah menerbitkan 2 buku kumpulan cerpen dan saat ini tengah mempersiapkan buku ketiganya.