Di Jatim, 9 Daerah Basis Kultural NU Masuk Kategori Miskin

621
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Probolinggo (wartabromo.com) – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyebut kemiskinan berkorelasi dengan kegagalan pertumbuhan anak akibat gizi buruk (stunting). Dari 10 daerah kantong kemiskinan, 9 di antaranya basis kultural Nahdlatul Ulama (NU).

Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan angka stunting yang cukup tinggi. Yakni 32% pada 2018 dan menjadi salah satu zona merah. Bahkan diatas persentase nasional, 30%. Sementara di Kabupaten Probolinggo persentasenya mencapai 39,9%.

Gubernur Khofifah mengatakan, upaya menekan angka stunting itu menjadi pekerjaan berat. Di Jawa Timur, stunting tertinggi ditemukan di Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan. Sedangkan Kabupaten Probolinggo ada di 5 besar.

“Stunting tidak hanya kerdil badannya, tapi juga mengkerdilkan otaknya. Maka perlu intervensi sejak dini,” ujar Khofifah saat menghadiri Muskerwil PWNU Jawa Timur, di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jumat malam, 29 November 2019.

Ia menguraikan jika stunting erat kaitannya dengan kemiskinan dan pernikahan usia dini. Dari 10 daerah dengan kemiskinan tertinggi di Jatim, 9 daerah di antaranya adalah wilayah dengan basis kultural NU. Persentase kemiskinan tertinggi, yakni Kabupaten Sampang 23,56%; Kabupaten Bangkalan 21,32%; dan Kabupaten Probolinggo 20,52%.

Karena itu, menurut gubernur, perlu kerja keras bagi kaum nahdliyin untuk menekannya. “Ada korelasi besar antara stunting dengan kemiskinan. Di kantong-kantong kemiskinan di Jawa Timur itu, mayoritas warga NU. Maka fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan mendesak dalam menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas ke depannya,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU itu.

Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar mengatakan, fakta tersebut menjadi tantangan bagi NU. Karena kesehatan sangat berpengaruh bagi kualitas umat. Juga nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara.

“Kita harus mempunyai fasiltas kesehatan yang memadai. Dengan mendirikan rumah sakit di seluruh daerah. Paling tidak klinik kesehatan yang bisa diakses oleh semua kalangan,” kata KH Marzuki Mustamar. (saw/saw)