Warga Tlogosari Keluhkan Jalan Rusak

529

Probolinggo (wartabromo.com) – Warga Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah. Warga perbatasan ini, merasa dianak-tirikan oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam pembangunan infrastruktur jalan.

Sekitar 5 kilometer jalan penghubung Kabupaten Probolinggo-Kabupaten Lumajang yang melewati Desa Tlogosari rusak parah. Aspal yang dulu pernah ada, kini sudah tak terlihat. Berganti batu-batu tajam menganga, seakan siap menerkam siapa saja yang jatuh.

“Sudah sering pengendara motor yang jatuh ketika lewat di depan rumah saya. Baik yang di Lumajang ke Tiris atau dari Tiris ke Lumajang. Karena kalau musim kemarau, debunya tebal menutupi lubang di jalan,”┬ákata Nur Hasan, warga Dusun Darungan, Desa Tlogosari kepada wartabromo.com, Senin (18/11/2019).

Debu tersebut, membuat batu dan lubang tak terlihat pengendara. Pengendara mengira jika jalan tersebut rata, padahal berbatu dan tertutup debu.

“Kasihan kalau ada orang yang sakit. Jalan yang ke Tiris kan rusak, kebanyakan warga pergi ke Jember, ke Lumajang kalau berobat. Ya karena jalannya yang rusak, sehingga warga memilih berobat ke luar daerah. Kalau yang daerah lain, lebih bagus,” tambah ayah 2 anak itu.

Ditambahkan kemudian, aspal bagus hanya terlihat ketika masuk desa, yakni di perbatasan Desa Ranu Agung – Desa Tlogosari. Itupun hanya sekitar 100 meter saja. Setelah itu, pengguna jalan harus ekstra hati-hati melajukan kendaraannya. Memilih jalan yang rata atau tidak terlalu parah kerusakannya.

Sepanjang jalan hingga menuju perbatasan dengan Kabupaten Lumajang, rusak parah. Batu-batu tajam siap mengoyak ban motor dan mobil. Hanya di beberapa titik yang dirabat beton. Itupun kondisi sudah mulai mengelupas dan berlubang. Sebagian lagi, berupa jalan tanah karena batunya sudah habis.

“Kalau bisa minta tolong ke bupati untuk memperbaiki, kasihan, terlalu parah Pak. Kalau di tetangga-tetangga sebelah bagus jalannya. Itu saya, kok jalan di Tlogosari sudah lama tidak diperbaiki, masak batunya sampai kelihatan,” pinta Nur Hasan.

Hal senada juga diungkapkan Muhamad, pedagang antar kabupaten. Pria yang sehari-harinya melintas di daerah ini mengaku tersiksa karena jalan rusak.

“Tidak hanya di musim kemarau, pada musim hujan jalan sulit dilalui karena licin. Terutama di tanjakan-tanjakan. Masih mending barang dagangan yang jatuh, lah kalau orangnya yang jatuh?,” tandasnya. (saw/saw)