Lebihi Kuota, Pertamina Kontrol Pasokan Solar di Probolinggo

2276

Probolinggo (wartabromo.com) – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Probolinggo, melebihi kuota. Pertamina pun perketat pengawasan, hingga sejumlah SPBU alami keterlambatan suplai BBM untuk mesin diesel itu.

Data yang didapat wartabromo.com, kuota BBM jenis solar untuk Kabupaten Probolinggo sebanyak 39.190 kilo liter. Namun, belum tutup tahun 2019, kuota itu telah habis. Bahkan realisasinya sudah 41.820 kilo liter pada Oktober.

Kelebihan konsumsi solar juga terjadi di Kota Probolinggo. Sampai Oktober, Pertamina sudah menyalurkan solar sebanyak 22.940 kilo liter. Padahal kuotanya hanya sebesar 21.850 kilo liter.

Akibatnya, sejumlah SPBU di sepanjang Pantura Probolinggo-Situbondo alami kelangkaan pasokan. Termasuk SPBU di jalur selatan hingga masuk wilayah Kota Probolinggo. Sebab, Pertamina mengurangi alokasi BBM jenis solar.

Biasanya dalam sehari, salah satu SPBU di jalur Pantura mendapat pasokan 16 ribu liter solar. Namun, sejak sepekan terakhir dikurangi separuhnya, yakni 8 ribu liter. Itupun dipasok tidak tiap hari, melainkan dua hari sekali.

Truk tangki pengangkut BBM solar, biasanya datang sekitar pukul 04.00 WIB. Tetapi pukul 08.00 WIB sudah ludes.

“Padahal sudah kita siasati dengan membatasi pembelian oleh konsumen. Untuk truk maksimal Rp300 ribu, mobil atau pikap maksimal Rp200 ribu. Tapi begitu tiba, antrean sudah panjang. Agak siang sedikit, sudah ludes,” terang salah satu petugas SPBU yang enggan disebut namanya.

Kelangkaan BBM jenis solar, diakui oleh Humas MOR V Pertamina Malang, Rustam Aji. Ia menyebut konsumsi bahan bakar solar di Jawa Timur, lebih tinggi dibanding premium. Sampai Oktober 2019, konsumsi solar sudah melebihi kuota yang ditetapkan.

Baca juga : Solar Langka, Sopir Truk Bahan Makanan Resah

“Sehingga suplainya dikurangi 10 persen. Inilah yang kemudian mengakibatkan kelangkaan solar. Di Probolinggo, sejumlah SPBU kehabisan stok. Di Jatim kelebihan konsumsi solarnya rata-rata 20 persen,” kata Rustam.

Kelebihan konsumsi bahan bakar minyak tak hanya terjadi pada solar. Tapi juga pada BBM jenis premium. Namun, kelebihan konsumsinya jauh di bawah solar. Kelebihan konsumsi premium, masih di bawah 10 persen. Berdasarkan analisa Pertamina, konsumsi premiun di Jatim hanya 35 persen.

“Selebihnya, mengkonsumsi BBM jenis Pertalite atau Pertamax yang non subsidi,” ujarnya.

Selain itu, bisa juga terjadi karena selisih harga antara Premium, Pertalite dan Pertamax tak begitu jauh. Sehingga masyarakat banyak yang beralih ke BBM non subsidi (Pertalite dan Pertamax).

Sementara selisih harga antara solar, Dexlite dan Pertamina Dex, cukup jauh. Sehingga masyarakat tetap bertahan menggunakan bahan bakar solar yang disubsidi pemerintah. (lai/saw)