Ironis, Ini Deretan Karya Anak Bangsa yang Lebih Dihargai Negeri Asing

431

Pasuruan (wartabromo.com) – Bangsa Indonesia, bangsa yang tak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusianya yang berkualitas. Sayangnya, keberadaan mereka justru ditolak di negeri sendiri, dan lebih dihargai negeri asing.

Muhammad Kusrin misalnya, namanya sempat ramai diperbincangkan karena ia dapat merakit bahan bekas menjadi TV siap pakai. Namun, di depan matanya sendiri, ia harus merelakan karyanya yang dibuat dengan susah payah itu dihancurkan dengan alasan tak memiliki label SNI.

Ironis memang. Bahkan, Kusrin bukan satu-satunya penemu yang karyanya yang tak dihargai di negeri sendiri. Dirangkum dari berbagai sumber, ada 5 penemu jenius yang tak diapresiasi di negeri sendiri, malah dihargai negara lain.

Siapa saja mereka? Yuk simak penjelasannya!

1. Alat Terapi Kanker (Dr. Warsito Taruno)

Penemuan Dr. Warsito Taruno ini dikenal dengan dengan Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT). Alat terapi kanker ECCT, dinilai dapat membunuh sel kanker. Teknologi ciptaannya ini berbasis energi rendah yang dipadukan teknologi terapi kanker.

Meski berdasar uji coba telah terbukti berhasil memerangi kanker penderitanya, karya Warsito tak mendapat izin dari Lembaga Kesehatan Indonesia (LKI).

Tak kehabisan akal, ilmuwan Indonesia yang menyelesaikan pendidikan S3 di Shizouka University itu kembali ke tempatnya menuntut ilmu, Jepang. TaK disangka, karyanya diapresiasi sangat besar oleh Jepang.

Risetpun dilakukan Jepang. Hasilnya, negeri sakura itu mengakui ECCT milik Warsito terbukti efektif memerangi sel kanker daripada produk negara lain. Bahkan kini juga sudah digunakan di berbagai negara seperti Malaysia, Cina, Amerika Serikat, Singapura, Eropa, Taiwan, dan India.

2. Technologi Broadband (Dr. Eng. Khoirul Anwar)

Taukah bolo, jaringan 4G LTE yang saat ini digunakan seluruh dunia ternyata temuan dari orang Indonesia?

Ya, kita wajib berbangga pada Dr. Eng. Khoirul Anwar. Pria berkacamata itu, kini dikenal sebagai pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standard internasional.

Hebat!

Menurut Khoirul Anwar, pemerintah Indonesia kurang menghargai karya anak bangsa termasuk ciptaannya dan lebih suka membeli produk jadi dari luar. Jadi keinginannya untuk menjadi dosen dan peneliti di Indonesia pupus.

3. Pemadam Api cepat ramah lingkungan (Randall Hartolaksono)

Pemadam satu ini tentunya berbeda dengan alat pemadam lain. Di tangan Randall Hartolaksono, sampah kulit singkong berhasil diubah menjadi bahan anti api kelas dunia.

Siapa sangka alat itu ditemukan secara tidak sengaja. Saat itu, ia sedang meneliti saripati kulit singkong untuk pelumas engsel robot. Nah, tanpa sengaja ia menumpahkan bahan itu di atas nyala api. Ternyata, api padam begitu cepat dan membuat Randall takjub.

Otak jenius Randall langsung menuntunnya untuk segera melakukan riset. Alhasil, ia berhasil menciptakan berbagai produk anti api.

Lagi-lagi, produk anak bangsa mendapat sertifikasi uji standar dari beberapa negara seperti Australia, Inggris, dan Amerika, tapi tak mendapat satuan lisensi atau sertifikat uji standar dari Indonesia.

4. Mobil Listrik (Ricky Elson)

Selain Jerman dan Amerika, Indonesia ternyata juga pernah memproduksi mobil sports. Namanya Selo, yang tercipta dari tangan pakar mesin, Ricky Elson. Bukan hanya body yang keren, Selo juga ramah lingkungan. Pasalnya, mobil ini berbahan bakar listrik.

Keberadaan mobil ini ternyata ditolak oleh pemerintah karena tak lolos uji emisi. Tapi, negara tetangga, Malaysia, malah meminang mobil canggih itu untuk dikembangkan lebih lanjut.

Kalau sudah diambil, gak boleh direbut lho ya!

5. Kompor Ramah Lingkungan/biomassa (Muhammad Nurhuda)

Berbeda cerita dengan Muhammad Nurhuda, Dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Ia menciptakan kompor biomassa yang justru laris di pasaran luar negeri. Misalnya, Norwegia, Peru, Meksiko, India, Kamboja, Timor Leste, hingga negara-negara di kawasan benua Afrika.

Bukan karena ditolak, tapi peminat dari Indonesia masih minim. Memasak menggunakan Elpiji masih dinilai lebih praktis, dan efisien ketimbang kompor biomassa. Itu lantaran kompor biomassa berbahan bakar kayu cacahan, butiran kayu, dan pelet sawit.

Yuk, sama-sama hargai karya anak bangsa!

Daripada bangga menggunakan produk luar, lebih bangga menggunakan produk lokal, milik bangsa sendiri. (bel/may)