Ini Tanda-tanda Perubahan Perilaku Remaja yang Harus Diperhatikan Orangtua

438

Pasuruan (Wartabromo.com) – Membesarkan anak memang harus siap menghadapi perubahan. Terlebih, ketika memasuki usia remaja, anak tak selalu datang ke orang tua ketika menghadapi masalah.

Menurut Dana Dorfman, salah seorang konselor anak menuturkan, remaja merupakan fase perkembangan yang kompleks.

“Memang sulit untuk memastikan apakah anak sedang dalam masalah atau tidak,” tutur Dorfman dinukil dari Kompas.

Seringkali orangtua sulit membedakan apakah perilaku buah hatinya itu memang sifat atau ada sesuatu yang mengganggunya. Maka dari itu, orang tua harus pandai-pandai menilai kondisi anaknya.

Menurut Dorfman, ada 5 perilaku yang perlu menjadi perhatian orang tua. Mengenali arti dari perilaku remaja akan membantu orangtua untuk memberikan dukungan dan tindakan yang tepat.

Berikut beberapa perilaku anak remaja yang perlu diwaspadai orangtua. Nah, dari beberapa indikator ini, orang tua bisa menentukan tindakan apa yang harus dilakukan agar tak salah langkah.

1. Perubahan pola tidur

Pola tidur remaja memang sedikit berbeda dari orang dewasa. Biasanya, para remaja tidurnya larut malam, dan melek ketika siang. Tapi, apabila pola tidurnya berubah drastis selama beberapa minggu, bisa jadi, anak sedang cemas, insomnia bahkan depresi.

2. Kehilangan minat pada aktivitas favorit

Perpindahan minat anak memang lumrah terjadi. Namun, saat anak tiba-tiba menarik diri dari kegiatan atau sekolah, itu yang perlu diwaspadai. Bisa jadi, itu merupakan gejala gangguan perilaku seperti bipolar, kecemasan, bullying hingga depresi.

3. Menyakiti diri sendiri

Apabila sudah memasuki fase ini, orang tua perlu lebih waspada. Sebab ini merupakan salah satu hal yang cukup ekstrem. Misalnya, menarik rambut, memotong rambut, bahkan sampai melukai bagian tubuh. Ketika anak mendadak memakai baju lengan panjang meski cuaca panas, bisa jadi, ia sedang menutupi luka.

4. Gampang marah

Selain menyakiti diri sendiri, perubahan anak yang perlu diperhatikan adalah menjadi pemarah. Meski marah merupakan salah satu emosi yang sehat, tapi akan jadi masalah ketika tidak bisa mengontrol emosi. Parahnya, ada yang melampiaskan kemarahan dengan kekerasan.

Nah, ketika tanda-tanda di atas ditemukan pada buah hati yang beranjak dewasa, hindari serangan langsung. Artinya, jangan gegabah dan memberondong pertanyaan yang terkesan menyudutkan anak.

Cobalah ajak anak berbicara baik-baik. Jika dia merasa nyaman, anak akan bercerita dengan sendirinya. Ketika anak sedang bercerita, dengarkan dulu, jangan memotong ceritanya dan menghakimi.

Akan menjadi masalah ketika anak tidak mau terbuka kepada orang tua. Cobalah minta bantuan kepada guru atau orang dewasa lain yang dekat dengannya. Jika tidak berhasil juga, hubungi terapis yang kompeten menghadapi anak remaja yabg sedang bermasalah.

Satu lagi yang perlu diingat para orang tua. Berhati-hati memang perlu, tapi jangan langsung menuduh anak bertindak yang bukan-bukan ya! (bel/may)