Dewi Oyik, Drummer Cewek Asal Prigen

2180
Penonton Berebut Selfie

Pasuruan (wartabromo.com) – Biasanya kala bermusik, cewek lebih suka ambil peran sebagai vokalis atau gitar. Jarang yang tertantang sebagai penggebuk drum alias drummer. Dari yang sedikit itu, muncul nama Dewi. Seorang drummer asal Jagil Desa Gambiran Kecamatan Prigen – Pasuruan.

Di panggung, nama Dewi lebih familiar dipanggil Oyik. Panggilan itu kerap disuarakan rekan-rekannya di atas panggung. Seperti yang terjadi saat band-nya main di panggung Pintu Langit, Prigen, beberapa waktu lalu.

“Ndak tahu kenapa anak-anak lebih senang panggil Oyik,” ucapnya kepada WartaBromo.com yang menemuinya usai manggung.

Gaya bermain drum Oyik terbilang cukup piawai. Beberapa lagi band milik Dewa 19 maupun lagu-lagu “Ambyar” milik Didi Kempot diiringi dengan mantab. Ayo, yik. Kita mainkan Cendol Dawet,” seloroh Riska, sang Vokalis. “Siaaap,” jawabnya.

Dewi Oyik mengaku sudah 5 tahunan bergabung dengan Nol Band. Nama Band yang dikenal diwilayah Pasuruan dan Malang. Nol Band digawangi Riska (Vokal), Edi (gitar), Titok (gitar/Melodi), Umar (bassis) dan Dewi Oyik pada drumb. Oyik merasa pemilihan jenis alat music perkusi ini membuat dirinya lebih nyaman. “Lebih senang sebagai ungkapan hati saja. Bisa ngilangin stress,” gumamnya.

Ia juga beberapa kali manggung di Pasuruan. Seperti saat momen Pasuruan Jaman Biyen. Atau saat ada momen ngeband yang diundang hajatan/event lainnya. Cewek yang juga alumnus SMA Taman Siswa ini ingin mencoba peruntungan dengan dunia music. Genre apapun menurutnya tidak masalah. Asalkan penonton bisa menyukainya.

Kesan humble juga ia tunjukkan ketika berada di panggung. Beberapa penonton Tretes Night Run yang memadati venue pintu langit kala itu ingin mendekati sang drummer. Awalnya mereka mengira kalau sang drummer adalah laki-laki. Hal ini dimaklumi, karena kilatan lampu panggung berwarna warni. Sehingga, tidak jelas, siapa sosok di balik seperangkat alat perkusi besar itu. Apalagi, gaya gebuk Oyik begitu memukau. Keras dan menghentak.

“Hemmm…tak kiro lanang, mbak (saya kira laki-laki, red),” seloroh Mulyadi, salah satu penonton.

Setelah mengetahui sang drummer adalah cewek, membuat Mulyadi dan teman-temanya memanfaatkan momen itu. Kilatan cahaya beberapa kamera HP mendarat di wajah Oyik. Beberapa penonton lainnya malah mendekati Oyik untuk selfie. Kendati demikian, Oyik tak merasa terganggu. Ia terus menggebuk drumb sambil melayani penontonnya untuk selfie.

Bahkan, saat turun dari panggung, beberapa penonton juga mengerubutinya. “Mbak, minta foto ya,” kata beberapa penonton. Terlihat beberapa penonton cowok dan cewek menunggu giliran berfoto. “Oh ya. Silakan-silakan,” jawabnya.

Oyik sendiri mengaku tidak tahu, kenapa teman-temannya memanggil Oyik. Namun, jika dilihat dari raut mukanya, ia memiliki hidung yang cukup mancung. Rambut yang diikat bak ekor kuda juga terlihat agak keriwul. Sehingga, wajar kalau band nya lebih enjoy memanggil kata Oyik. Kata yang biasanya digunakan untuk memanggil keturuan Arab atau India.

“Ya, ada darah ayah sih yang keturunan India,” jawabnya yang mulai mencoba buka rahasia.

Drummer kelahiran 4 Februari 1986 ini adalah anak dari pasangan Rajlin Kumar – Liyani. Ada darah campuran antara India – Jawa. Ia mengaku bakat bermusiknya diperoleh secara otodidak. Tidak ada yang mengajari atau les privat.

“Ya, coba latihan dengan teman-teman. Kesana kemari. Dan kemudian cocok dengan teman-teman di band ini,” terangnya. (day/day)