Kendati begitu, merebaknya politik sektarian diakuinya membuat tensi politik di luar Tengger saat Pemilu lalu memanas. Karena itu, menjelang pelaksanaannya kala itu, masyarakat setempat menggelar doa bersama dengan melibatkan lintas agama. Ini merupakan kali pertama kegiatan ritual doa bersama digelar dengan melibatkan agama lain.
Kegiatan itu diikuti sekitar 1.500 warga Tengger dari tiga penganut agama berbeda. Hindu, Islam, dan juga Protestan, dengan harapan hajatan politik berlangsung aman dan damai. Para tokoh dari ketiga agama berbeda ini pun memimpin doa bersama secara bergantian.
Sutomo sendiri memahami dinamika politik yang berkembang terkadang membuat hubungan antarsesama menjadi renggang. Tetapi, praktik seperti itu tidak pernah terjadi di Tengger.
Menurut Sutomo, penghayatan warga Tengger atas nilai-nilai ajaran agama telah menjadikan sentimen politik jauh di bawah keinginan untuk menjaga kedamaian sekitar.
Perbedaan itu sangat jarang nampak hingga menjadikan warganya saling tidak akur. Perbedaan sikap politik, jika pun ada, cukup disimpan dalam diri tanpa perlu ditunjukkan karena menjaga lingkungan yang damai jauh lebih penting ketimbang menunjukkan afiliasi politik. Karena itu, kampanye dukung mendukung tidak pernah terjadi di Tengger.
Di sisi lain, keteguhan masyarakat Tengger dalam mempertahankan nilai dan kearifan lokal seolah menegaskan hasil survey Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2018 lalu. Hasil survei yang digelar di seluruh wilayah Indonesia itu disebutkan, 63,60 persen publik masih meyakini kearifan lokal efektif mencegah konflik. Termasuk, radikalisme.
“Dari jumlah responden yang ada, 63,60 persen menyatakan kearifan lokal masih relevan sebagai sarana pencegahan konflik dan juga terorisme,” kata Kepala BNPT, Suhardi Alius.
Survei itu sendiri dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada 450 responden di setiap provinsi. Dengan begitu, total ada 14.400 responden yang terlibat dari survei ini. ke halaman 3
Di sisi lain, keteguhan masyarakat Tengger untuk tetap bertahan dengan kearifan lokal bisa menjadi potret betapa nilai-nilai tersebut mampu menjadi jembatan menuju tata hidup yang harmonis.
“Karena semua sudah ada hukumnya. Bagaimana laku kita, pada akhirnya kita juga yang akan menerima hasilnya. Apakah itu baik atau buruk,” jelas Sutomo. (*) ke halaman awal