Petani di Pasuruan Dinilai Belum Hemat Manfaatkan Air

1467

Pasuruan (WartaBromo.com) – Keberlanjutan air pada hilir sungai wilayah Kabupaten Pasuruan menjadi sorotan. Pasalnya, pemanfaatannya dinilai masih belum efisien.

Rekaman penilaian terhadap perilaku petani -terutama yang menanam padi-, di antaranya yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso.

Terungkap, keberadaan air selama ini terbilang terdapat banyak pemborosan. Praktik itu telah berlangsung lama, sehingga harusnya dapat segera ditangani. Ditinjau secara teori, pemanfaatan air untuk penghematan sepatutnya dapat ditekan sampai 60%.

Dr Beria Leimona, dari World Agroforestry (ICRAF) dalam satu kesempatan diskusi mengungkapkan, setidaknya ada dua hal dicatatkan berkenaan dengan efisiensi penggunaan air oleh petani selama ini.

“Padi itu bukan tanaman air, yang nggak perlu direndam. Nah, sekarang terus-terusan direndam air tuh,” ucap Beria meneruskan simpulan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) terkait pemanfaatan air.

Secara lebih sederhana dapat disebutkan, petani selama ini abai terhadap keberlangsungan air, lantaran acapkali tak memperhitungkan pola tanam dikaitkan dengan kecukupan air

Perihal lain berkenaan dengan pemanfaatan air oleh petani adalah bagaimana infrastruktur memadai dan terukur dapat segera dibangun dan dikelola.

Infrastruktur dimaksud dimungkinkan bersumber dari sumur artesis. Namun, ditegaskan oleh Beria, sarana pengairan tersebut harus dapat dikontrol sehingga pemanfaatan air menjadi lebih hemat dan terukur.

“Untuk sawah yang hemat air bisa saja dari artesis yang didesain mempunyai keran, sehingga bisa dikontrol,” tegas Beria.

Dengan anganan itu, pihaknya dalam waktu dekat juga bakal mencoba melakukan penanganan pada hilir DAS Rejoso, agar pemanfaatan air lebih efisien.

Upaya itu salah satunya melalui langkah percontohannya, sekaligus tindak lanjut dari gerakan Rejoso Kita, yang sebelumnya lebih berkonsentrasi pada hulu.

Penguatan pada hilir sungai dianggapnya lebih efektif, bila saja pemanfaatan air dilakukan secara efisien, karena jumlah air justru kian cepat bertambah.

“Karena hilir dampaknya langsung. Dengan mengurangi demand, maka suplai langsung besar,” tandasnya.

Meski demikian, hulu daerah aliran sungai ditegaskannya tetap menjadi kewajiban bersama untuk memperhatikan. Secara keseluruhan setidaknya ada 64 ribu hektare DAS di Kabupaten Pasuruan perlu mendapatkan perhatian.

Tapi, kebutuhan air petani tetap mendesak, sehingga penyelamatan hulu sungai juga perlu dibarengi dengan ikhtiar pengaturan pemanfaatan air pada hilir.

Memulainya, ICRAF pun mencoba mengajak soal pertanian berkelanjutan, emisi karbon rendah dan ko-investasi sumberdaya air di DAS Rejoso,

“Di hulu dan tengah lebih long term. mengandalkan proses alam. Kita sudah lakukan itu dengan 174 petani,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, pihaknya telah mengembangkan upaya penyelamatan air dengan pendekatan membayar jasa lingkungan. Dengan konsep tersebut, ada 174 petani pemilik 106,6 hektar lahan di 7 desa di bagian hulu dan tengah DAS Rejoso, telah diikat untuk dapat menjaga keberadaan air. (ono/ono)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.