Rapor Cak Thoriq-Bunda Indah di Setahun Kepemimpinan

551
Thoriqul Haq - Indah Masdar saat pelantikan di Gedung Grahadi, Surabaya, Senin (24/9/2018).
“Hari ke 365 Cak Thoriq dan Bunda Indah jadi pimpinan Lumajang. 20 program janji nyata sudahkah berjalan?”

Oleh : Maya Rahma

KERJA cepat. Boleh dikata demikian sekarang Pemerintah Kabupaten Lumajang. Kolaborasi ‘nekad’ antara Thoriqul Haq dan Indah Amperawati hampir berbuah manis di setahun masa jabatan.

Dari awal, pasangan ini memang menjadi sorotan. Dari yang mulanya mau maju sendiri-sendiri, terus memutuskan bergabung. Dengar-dengar sih, ini jadi keputusan yang bisa dibilang excellent. Keduanya bisa saling menekan ego masing-masing.

Ada 20 program janji nyata di kepemimpinan Lumajang Hebat Bermartabat ini. Mari kita sisir satu satu.

Point pertama bisa dibilang menjadi sorotan warga, yakni pelayanan administrasi kependudukan yang ruwet sejak jaman kolobendho. Bikin KTP ribetnya minta ampun. Hamdalah, sekarang sudah tidak lagi.

Sekarang pengurusan KTP tuntas di Kecamatan. Terlebih kesulitan blanko juga diatasi dengan adanya kartu sementara KTP khusus warga Lumajang. Sudah tampak berhasil rupanya sidak-sidak yang dilakukan Bunda Indah untuk administrasi kependudukan.

Program ini membuat warga Pasuruan iri. Hayo ngaku?

Sepertinya tidak cukup kalau dibahas satu-satu. Saya rangkum saja ya, hehe. Setidaknya ada 9 program yang sudah dirampungkan Cak Thoriq dan Bunda Indah. Lalu 6 program sudah berjalan separo. Sisanya, 5 program lain katanya masih berupaya untuk diwujudkan.

Beberapa yang sudah rampung selain KTP yakni pengadaan seragam sekolah, program beasiswa mahasiswa, tambahan tunjangan guru/ustadz no NIP, dll.

Sementara yang masih progress diantaranya pemenuhan listrik dan air. Nah kalau yang masih akan dijalankan, seperti pada point ke 10 mengenai pengadaan WiFi di seluruh sarana public di setiap desa/kelurahan. Dan pemasangan 1000 CCTV di jalan. Tentu tidak bisa langsung diwujudkan saat ini juga. Duite sopo digawe?

Bisa dibilang ini merupakan kemajuan cukup bagus untuk Lumajang khususnya. Selama setahub berbagai program yang dijanjikan bisa dirasakan manfaatnya.

Strategi yang dilakukan duo pimpinan Lumajang ini bisa dibilang yahud. Cak Thoriq, pemuda dengan karir politik yang bagus, merupakan negosiator handal. Kalau urusan lobbying tak perlu diragukan lagi lah. Termasuk saat kemarin bisa mecuti BUMN ikut revitalisasi Ranu Pani.

Sementara Bunda Indah, Ibu yang sesungguhnya untuk warga Lumajang. Ia kebagian tugas di-birokrasinya. ‘Bersih-bersih’ pegawai maupun pejabat yang tidak bisa diajak kerja cepat. Tengok sudah berapa kali mereka melakukan mutasi pejabat? Sampai ada yang kena Inspektorat. Bunda memang begitu, tahu rahasia ‘anak-anaknya’.

Dibalik kerja cepat pucuk pimpinan Lumajang, memang ada yang keteteran. Banyak. Sebut saja OPD. Kalau tidak bisa ngimbangi, ya sudah rapornya merah.

Masih ada kok beberapa OPD yang patut menjadi perhatian bersama. Termasuk beberapa program yang mubadzir begitu. Misal nih ya, ada workshop yang asal-asalan, pokok mlaku. Atau hal-hal lain seperti tidak bisanya beberapa OPD melakukan kerjasama saling menguatkan.

Contohnya di poin membangun pariwisata harus dilakukan semua OPD. Baik dari Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan, bahkan PU Bina Marga. Nah ini yang mesti kolaborasi. Tidak jalan sendiri-sendiri, tapi saling mendukung begitu lho, sesuai tupoksi.

Pengalaman di lapangan, gara-gara para OPD gak terlalu berangkulan nih, warganya ikut terkotak-kotak. Itu saja sudah sayang sekali kan.

Hari ke 365 ini masih belum sampai di tahap OPD saling bersinergi satu sama lain. Boleh lah dijadikan evaluasi bagi cak Thoriq dan Bunda Indah.

Tapi terlepas dari itu semua, ada apresiasi mengenai sistem pengaduan ‘Lapor Lumajang’. Meski rada’ nekad dengan membebaskan warga melaporkan apa saja layaknya update status, namun kebijakan ini bermanfaat. Melatih OPD buat cagceg. Kalau gak cagceg ya kelihatan kan. Kelihatan warga, pun gampang ditegor sama para pimpinan.

Ya tidak memungkiri, masih ada 4 tahun lebih masa kepemimpinan keduanya. Tentu hal ini tidak bisa dijadikan patokan kepemimpinan ‘kabinet’ Lumajang Hebat Bermartabat bisa dinilai baik atau buruk. Tapi selama ini, kalau aku sih, ‘yes’, ndak tau kalau mas Anang. (*)