Probolinggo (wartabromo.com) – Ormat (47), warga Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pemilik akun facebook Ponco Suro, menyebut postingannya lumrah. Sementara pengajian rutin di rumahnya merupakan kegiatan arisan.
Ormat alias Ponco Suro menjelaskan jika sejumlah status yang diunggahnya di facebook mempunyai makna tersendiri. Misal postingan Islam itu bukan ajaran, bukan ilmu, bukan pengetahuan, bukan hukum juga bukan agama. Ia mengartikan bahwa sebelum zaman Nabi Muhammad, yakni pada zaman Nabi Adam, Islam itu sudah ada.
“Sehingga, Islam itu bukan ajaran atau ilmu. Karena sudah ada sejak zaman dahulu. Termasuk bukan agama, sebab mulai dulu Islam itu sudah ada. Barulah pada zaman Nabi Muhammad, Islam itu menjadi agama,” ungkap Ormat, Kamis (20/6/2019).
Pria yang berdomisili di Dusun Bringin itu, mengatakan meski membuat postingannya kontroversial, ia mengakui dan tetap percaya pada Allah dan Alquran.
“Saya tetap percaya Tuhan. Mengenai perbedaan cara sudut pandang, itu hal yang biasa. Yang terpenting saya tidak berbuat atau bertindak yang menyebabkan kerusakan lingkungan, huru-hara, termasuk tidak merusak tatanan pemerintahan,” akunya.
Ia juga mengiyakan adanya pengajian yang dilakukan olehnya setiap Rabu malam. Anggotanya sebanyak kurang lebih 40 orang. Pengajian ini untuk mengakomodasi arisan yang dibuatnya pada setahun yang lalu. Besarnya arisan tidak ditentukan, tergantung anggota mau membayar berapa. Sehingga hasil arisan tidak sama di tiap tempat.
“Tempat pengajian dilakukan bergilir atau berpindah-pindah, sesuai dengan hasil undian arisan. Jadi pengajiannya berpindah-pindah. Siapa yang dapat undian arisan, di situ pengajian digelar,” jelasnya.
Arisan ini berawal dari banyaknya warga yang berkumpul di rumahnya. Setelah mereka tertarik dengan omongan Ormat tentang keagamaan dan ketuhanan, kemanusiaan, serta tentang kehidupan. Kelompok pengajian ini, tidak pernah mengundang kiai dari luar. Karena hanya pengajian internal.
Baca: Warga Probolinggo Resah, Ada Akun Facebook Diduga Sudutkan Agama Islam
“Jadi, kami tidak mengajarkan hal yang aneh-aneh. Biasa saja. Kami bukan seperti pengajian pada umumnya. Apalagi, kegiatan ini sebetulnya untuk mengisi kegiatan yang lebih bermanfaat. Kami juga tidak mengajarkan aliran sesat atau sejenisnya,” tandas ayah 6 anak ini. (fng/saw)