Kisah Pasutri Lansia, Tinggal di Gubuk Reot hingga Makan Tunggu Pemberian Orang

5851
Sakri dan Armani, pasutri lansia asal Kota Probolinggo.

Probolinggo (wartabromo.com) – Sepasang suami istri (Pasutri) Sakri (70) dan Armani (66), warga Jalan KH Ahmad Dahlan, RT 5 RW 16 Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, tinggal di gubuk reot. Kehidupannya sangat memprihatinkan karena untuk makan menunggu pemberian orang.

Di rumah kecil berukuan 4 x 6 meter berdinding bambu, keduanya menghabiskan waktunya sambil menunggu belas asih warga setempat. Mereka tidak bisa kerja karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Penglihatan kedua pasutri renta tersebut, tidak bisa melihat alias buta.

“Mas, agak keras ya. Pendengaran saya sudah tidak normal lagi,” kata Sakri, saat ditemui, Jumat (8/3/2019).

Rumah dan isinya tak dirawat dengan kondisi kotor berantakan. Tidak ada air, apalagi sumur atau pompa dan kamar mandi. Bahkan, kompor atau tungku untuk memasak, tak kelihatan. Tak hanya memasak, baju yang dikenakan dan kain yang berserakan, tidak dicuci karena tidak ada air.

Kondisi rumah pasutri lansia di Kota Probolinggo.

Meski begitu, pasutri tersebut betah tinggal digubuk reot dan bocor jika hujan deras. Sakripun menolak saat ditawari tinggal d Panti Jompo.

“Apa ? saya tidak mau tinggal dipanti jompo. Lebih baik saya disini. Saya bisa kerja, tidak pernah meminta-minta dan menunggu bantuan tetangga,” katanya dengan nada keras.

Menurut Ketua RT 6, Slamet Hariyanto, lahan yang ditempati Sakri dan Arman, milik Rasuli ketua RT 5. Rumah itu, dibangun hasil swadaya warga setempat 8 tahun silam. Rumah tersebut tidak bisa direhab dengan biaya pemkot, mengingat lahannya bukan milik Sakri.

“Sudah diusulkan ke program RTLH. Sudah didatangi, tapi ditolak. Karena tanahnya milik pak ketua RT 5,” ungkapnya.

Selain pemkot, komunitas peduli lansia juga pernah datang. Namun, niat baik untuk membawa Sakri dan istrinya ke panti jompo ditolak. Warga sekitar, lanjut Slamet, ingin keduanya dirawat dipanti jompo. Sebab, tingkah laku Sakri terkadang meresahkan warga setempat. Jika ada perempuan, baik dewasa, remaja dan anak-anak, Sakri menunjukan kelaminnya.

“Kalau diberi nasi dingin, dibilang nasi basi. Yang bantu kan tersinggung. Sekarang makannya minta ke tetangga yang disukai. Ya, dia yang ke rumahnya,” beber pria yang juga Plt Ketua RW 16 itu.

Kepala Dinas Sosial Zainullah menyatakan, yang bersangkutan sudah mendapat bantuan pangan dari pemerintah. Mengenai persoalan di lapangan tentang ulah Sakri, pihaknya berjanji akan segera mengecek ulang.

“Sudah dapat bantuan pangan program BPNT. Hari ini, kita ke rumahnya dengan staf dan pihak kelurahan,” ujar Zainullah. (fng/saw)