Lumajang (wartabromo.com) – Sebanyak 15 Desa yang tersebar di Kabupaten Lumajang tercatat sebagai wilayah rawan tsunami. Alat pendeteksi tsunami pun sudah terpasang di 3 daerah yang masuk kategori bahaya tinggi.
Daniel, Tim Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang mengatakan, alat pendeteksi tsunami yang terpasang di wilayah rawan tsunami di Lumajang, sudah ada sejak 2014 lalu. Ia memastikan alat tersebut masih berfungsi dengan baik.
“EWS/Sistem Peringatan Dini Tsunami sudah terpasang di Yosowilangun, Pasirian, dan Tempursari,” ujarnya, Senin (31/12/2018).
Kata Daniel, pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan BMKG Tretes, jika ada peringatan bahaya bencana tsunami, khususnya gempa.
“Selalu kalau ada gempa dari lempeng Jawa, kami berkoordinasi dengan BMKG Tretes. Selalu ada keterangan disana, apakah gempa ini berpotensi tsunami atau tidak,” tambahnya.
BPBD pun selama ini berupaya untuk melakukan sosialisasi, khususnya untuk warga yang bermukim di daerah rawan bencana tsunami. Hal ini untuk mewaspadai jikalau tsunami datang sewaktu-waktu.
“Kita selalu melakukan gladi lapang, utamanya di daerah-daerah terdampak tersebut, juga sosialisasi. Namun, sejauh ini wilayah tersebut aman,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, ada belasan desa di Lumajang yang masuk dalam daftar Desa kelas bahaya sedang dan tinggi tsunami di Indonesia, disusun Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BNPB.
Dari dua kategori bahaya, 14 desa masuk pada kelas bahaya tinggi. Diantaranya Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro; Jatimulyo, Kecamatan Kunir; kemudian Desa Bades, Bago, Selok Awar-awar, dan Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian; lalu Desa Pandanarum dan Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Desa Tegalrejo, Bulurejo, Tempurrejo, serta Desa Tempursari, Kecamatan Tempursari; selain juga Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun. (may/ono)