“Sejak 2 tahun lalu sudah ada 27 longsor di areal hutan itu. “Ini akibat penebangan liar. Kawasan hutan di atas desa ini sudah beralih fungsiAkibatnya ya seperti sekarang ini. Saya sangat menentang adanya penebangan liar karena takutnya ada kejadian seperti ini,” terang pria yang menjabat Kades sejak 2015 ini.
Dari analisis sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo, ada 3 hal yang mendasari penyebab banjir dan longsor. Pertama alih fungsi hutan, yakni dari hutan kayu jati dan pohon keras lainnya, berubah menjadi hutan kayu sengon dan perkebunan kopi. Perubahan fungsi hutan itu, tak hanya di areal Gunung Gambir, sebagaimana dituduhkan oleh Kades Andung Biru, Essam. Tetapi juga terjadi di hutan yang berada di kawasan Kecamatan Tiris.
Sehingga fungsinya sebagai serapan air, tak mampu dilakukan dengan maksimal. Karena pohon sengon dan kopi, bukanlah tipe pohon penyerap air. Ditambah lagi dengan pemupukan yang membuat tanah menjadi gembur.
“Karena adanya perubahan pola tanah, yang tadinya berupa hutan sekarang menjadi kebun kopi. Sehingga penyerapan air memang kurang,” kata Kepala DLH, Rachmad Waluyo.
Yang kedua, menurut Rachmad adalah curah hujan sebelum banjir cukup tinggi. Serta intensitas hujannya berlangsung cukup lama. Sehingga aliran sungai yang hanya mepunyai lebar sekitar 4-6 meter, tidak mampu menampung debit air. Yang kemudian mengakibatkan air masuk ke perkampungan warga dengan radius 30 meter dari bibir sungai.
“Ketiga adalah saat banjir, air itu membawa material. Membawa bongkolan-bongkolan (pohon dengan akar-akarnya, red) yang akhirnya menyetop air dan lari kemana-mana,” terangnya.
Sayangnya, DLH sendiri tidak menangani masalah kehutanan, sehingga Rachmad melempar solusi penanganan banjir itu ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain dan Perhutani, selaku pengelola hutan di Gunung Gambir dan sekitar Kecamatan Tiris.
“Masalah penghijauan hutan itu bukan di kita. Kalau saya lebih cenderung, misalnya kalau itu milik perhutani, ya lebih banyak penghijauan di atas,” kata mantan Kadis PU Pengairan ini. (*)