Mata Air Gunung Arjuno Terus Menyusut Akibat Kebakaran Hutan

290
Foto: dok. wartabromo.com

Pasuruan (wartabromo) – Kerugian akibat kebakaran hutan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang terjadi setiap musim kemarau tidak ternilai. Selain merusak vegetasi, kebakaran juga menyebabkan mata air menyusut.

“Selama dua bulan terakhir terjadi dua kali kebakaran di kawasan Tahura yang membakar lahan seluas 11 hektar. Pada 2012, lebih dari 930 hektar hutan terbakar,” kata Kepala sub bagian tata usaha Unit Pelaksana Teknis Tahura R Soerjo, Agustina Tangkeallo, Senin (21/10/2013).

Tahun lalu kebakaran merata terjadi di wilayah Pasuruan, Mojokerto, Batu dan Malang. Saat itu, lanjut Agustina, kebakaran meluas karena medan sulit dijangkau karena berada di daerah terjal dan berbahaya.

“Pada kebakaran tahun ini medan lebih mudah dijangkau dan angin tak besar sehingga relatif mudah memadamkan kebakaran,” jelasnya.

Kawasan ini ditumbuhi pohon jenis Cemara Gunung, Kesek, Akasia, Suren, dan Kemelina. Beberapa satwa dilindungi juga hidup di sini. Terdapat 164 mata air yang dimanfaatkan untuk aliran irigasi, bahan baku air minum, industri air minum kemasan, dan pasokan untuk hotel dan industri. Namun akibat menyusutnya hutan, jumlah mata air terus menyusut.

“Sejak sepuluh tahun lalu debit air menyusut,” kata Sekretaris Paguyuban Kelompok Tani Tahura (KTT), MH Dardiri.

Warga sekitar yang memanfaatkan air untuk kebutuhan irigasi, ternak, budidaya ikan air tawar dan air minum juga sudah merasakan menurunnya debit sumber mata air di kawasan tersebut.

Di kawasan Tahura bagian Pasuruan, kata Dardiri, saat ini hanya memiliki 11 mata air dan hanya 5 diantaranya yang memiliki debit besar. Padahal sebelumnya terdapat sedikitnya 41 sumber mata air.

Mata air yang memiliki debit air besar diantaranya mata air Gumandar (1.800 mdpl), mata air Kuning (2.000 mdpl), mata air Kokopan, Precet dan Alap-alap (+-1.500 mdpl).

“Mata air ini memenuhi kebutuhan masyarakat di 3 kecamatan, yakni Prigen, Sukorejo dan Purwodadi serta puluhan perusahaan,” pungkas Dardiri. (fyd/fyd)